Memaafkan

Mahatma Gandhi pernah menyatakan bahwa ‘The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong’, yang artinya kira-kira ‘Orang lemah tidak akan bisa memaafkan. Kemampuan memberi maaf hanya dimiliki oleh orang yang kuat’. Apa maksud dari ucapan Mahatma Gandhi tersebut?

 

Dari perspektif agama Islam, memberi maaf, memaafkan, banyak disebut baik dalam Al-Qurán Al-Karim maupun hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Beberapa ayat Al-Qurán Al-Karim yang berkaitan dengan maaf-memaafkan adalah:

 

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan lapangkan dada, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah [2]: 109)

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 263).

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Áli ‘Imraan [3]: 134)

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan lapangkan dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Maa‘idah [5]: 13)

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf [7]: 199).

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Nuur [24]: 22)

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Al-Syuuraa [42]: 40)

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS Al-Syuuraa [42]: 43)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Taghaabun [64]: 14)

Dari beberapa ayat tersebut, dapat dilihat bahwa memaafkan itu:

  • Termasuk dalam kebajikan
  • Dilakukan dengan lapang dada
  • lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan perasaan si penerima
  • dilakukan dengan menahan amarah, dan kemudian memberi maaf
  • pahalanya atas tanggungan Allah
  • bila ingin diampuni Allah SWT, berilah maaf pada orang lain
  • termasuk hal yang diutamakan

 

Sekarang mari kita lihat beberapa hadits yang berkaitan dengan maaf-memaafkan:

Orang yang paling sabar di antara kamu ialah orang yang memaafkan kesalahan orang lain padahal dia berkuasa untuk membalasnya.” (Riwayat Ibnu Abiduyya dan Baihaqi)

Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabrani)

Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114)

Barangsiapa memaafkan kesalahan orang lain maka Allah akan memaafkan kesalahannya pada hari kiamat.” (HR Ahmad No – 7122)

Keutamaan yang paling utama adalah kamu menyambung orang yang telah memutusmu, kamu memberi orang yang tidak pernah memberimu dan mememaafkan orang yang mencelamu“. (HR Ahmad No – 15065)

Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim)

Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Dari hadits di atas dapat kita ketahui intinya adalah:

  • memaafkan merupakan bagian dari kesabaran
  • memaafkan akan memuliakan dan meninggikan derajat
  • Orang yang mampu menahan amarah, dan memaafkan, adalah orang yang kuat
  • Memaafkan termasuk keutamaan yang paling utama
  • Memaafkan akan memperoleh kemuliaan
  • Meminta maaf merupakan kewajiban, yang bila tidak dilakukan akan diganti dengan amal kebaikan lain, dan bahkan sampai dosa yang teraniaya akan ditanggungkan padanya.

 

Ayat-ayat Al Qur’an Al Karim dan hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa memaafkan itu sangat diutamakan dalam agama Islam, apalagi memaafkan orang yang mencela/memusuhi kita. Dapat kita ketahui juga bahwa memaafkan berkaitan dengan kelapangan dada, kesabaran, kebajikan, kemampuan menahan amarah, dan kekuatan, dalam hal ini kekuatan mental. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa memaafkan merupakan salah satu inti dari ajaran Islam, yang menunjukkan bahwa sesungguhnya wajah Islam itu damai, dan rahmatan lil ‘aalamiin.

Merujuk pada ayat Al Qurán Al Karim di atas, ternyata memaafkan, berlapang dada dan bersabar itu merupakan ciri-ciri orang yang mulia dan kuat, sesuai dengan ucapan Mahatma Gandhi.

Namun, pertanyaan yang sama dengan awal tulisan masih muncul, mengapa orang yang suka memaafkan itu orang yang kuat?

Mari kita lihat beberapa contoh berikut:

  • Ketika GusMus dihina dengan sebutan “Ndasmu!”,  Gus Mus (KH Mustofa Bisri) dengan santainya bilang “Tidak ada yang perlu dimaafkan, kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda”.

Bila hal ini menimpa kita, belum tentu kita memiliki kekuatan untuk memaafkan, yang ada mungkin malah emosi dan muncul keinginan memberi pelajaran.

  • Contoh yang lebih sulit untuk ditiru adalah apa yang menimpa Nabi Yusuf A.S., yang dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri dan disebut telah meninggal, selain itu kemudian difitnah akan memerkosa Siti Zulaikha, yang mengakibatkan dipenjara bertahun-tahun. Beliau mengatakan pada saudaranya, sesuai dengan Al Qur’an Al Karim, Surat Yusuf ayat 92:

 قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Nabi Yusuf AS berkata (kepada saudara-saudaranya): “Tak ada cercaan kepada kalian. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Paling Penyayang diantara para penyayang. (Yusuf: 92)

Apa rasanya dijerumuskan oleh saudara kandung sendiri? Apa rasanya difitnah hal yang sangat memalukan dan kemudian dipenjara gara-gara hal tersebut? Betapa beratnya penghinaan dan kezholiman yang menimpa Nabi Yusuf A.S. Bagaimana bila hal ini terjadi pada kita? apakah kita sanggup untuk memaafkan? Apakah kita akan menerima begitu saja melihat diri kita diinjak-injak begitu rupa?

  • Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan di mana orang-orang Quraisy yang bertahun-tahun menghina, menyiksa pengikutnya, dan akhirnya memaksa Nabi Muhammad SAW untuk berhijrah ke Yastrib. Dan saat peristiwa Fathu Makkah, yang beliau sampaikan adalah

Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!

Kita semua mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW mengalami banyak sekali penghinaan, dan kezholiman, bukan hanya dari suku Quraisy, tapi juga dari pihak-pihak lain, tapi apakah yang ditauladani oleh beliau? Lapang dada, bersabar, dan memaafkan.

Dari contoh-contoh di atas, dapat kita teladani, betapa memaafkan itu sangatlah berat, apalagi memaafkan musuh-musuh yang telah menzholimi kita. Maka benarlah memaafkan itu membutuhkan kekuatan mental yang luar biasa.

Bila kita mampu berlapang dada, menahan amarah, bersabar, dan memaafkan, Insyaa Allah kita tergolong terdalam orang yang dimuliakan oleh Allah SWT. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s